Hello, mbak Anindya. Mbak aku tuh susah banget kalo mau komunikasi sama pasangan ketika berhadapan langsung. Ada aja yang sulit disampaikan. Ketika ngomongnya pake DM atau Whatsapp message atau telponan kenapa rasanya lebih mudah ya menyampaikan sesuatu?
(Risya, 32 tahun, pegawai swasta)

Hai Risya, menurut penelitian psikologis, berinteraksi dengan sesama manusia secara langsung memerlukan keterlibatan emosional yang lebih besar, oleh karena itu, memerlukan usaha kognitif yang lebih besar, daripada ketika kita berinteraksi melalui komputer/smartphone. Kita mungkin sering tidak menyadari mengapa terasa lebih mudah berinteraksi melalui komputer, komputer tidak memerlukan keterlibatan kognitif atau emosional, sehingga membuat interaksi dengan komputer lebih mudah.

Interaksi sehari-hari hampir sepenuhnya didasarkan pada komunikasi nonverbal. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita terus-menerus memproses sinyal tanpa kata seperti ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh, bahasa tubuh, kontak mata, dan bahkan jarak fisik antara kita dan mereka. Sinyal nonverbal ini adalah hati dan jiwa dari interaksi. Kita tidak dapat memahami makna sebenarnya dari suatu interaksi jika kita tidak memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan sinyal nonverbal ini. Ketika kita ingin menyimpulkan niat orang lain, sejauh mana mereka terlibat dalam percakapan, apakah mereka stres atau rileks, apakah mereka tertarik kepada kita, dan sebagainya. Pesan-pesan ini ada dalam setiap jenis interaksi tatap muka, bahkan yang tidak melibatkan percakapan aktif. Sinyal nonverbal menambah tingkat kedalaman pada interaksi, tetapi menuntut adanya usaha kognitif dan emosional.

Usaha tambahan yang terlibat dalam interaksi tatap muka seringkali hilang dalam interaksi online yang terbatas; sebagian besar sinyal ini dapat dirangkum dalam emotikon atau tanda baca. Oleh karena itu, lebih mudah untuk menyembunyikan emosi di balik email, pesan langsung instagram, atau pesan Whatsapp. Platform ini membantu orang memproyeksikan gambaran apa pun yang mereka inginkan; mereka dapat menjadi siapa pun dan apa pun yang mereka inginkan.

 

Ketika berinteraksi tatap muka, satu orang diam sementara yang lain berbicara, satu mengangguk sementara yang lain menjelaskan, dan satu tahu yang lain tidak selalu selesai berbicara meskipun diam; kita bisa tahu kapan lawan bicara kita memproses informasi. Perilaku yang disinkronkan tidak mungkin terjadi online, karena kita tidak dapat melihat orang lain. Jika seseorang bertanya, “Apakah kamu di sana?” pada platform pesan dan tidak mendapatkan jawaban segera, tidak mungkin untuk mengetahui apakah orang lain tidak menjawab karena mereka tidak ada, atau karena mereka tidak ingin berbicara pada saat itu, atau karena mereka marah pada lawan bicaranya.

Dalam jenis komunikasi online, interaksi tidak perlu diselaraskan karena perilaku tidak diarahkan oleh umpan balik orang lain. Orang dalam interaksi online lebih santai karena mereka tidak perlu memperhatikan sinyal satu sama lain. Umpan balik verbal dan simbolis tidak langsung, sehingga tidak perlu selalu menyadari respons orang lain. Ini membuat interaksi kurang menuntut dan memungkinkan kita melakukan hal-hal lain secara bersamaan, misalnya, menjelajahi situs web lain atau berkomunikasi dengan orang lain pada saat yang sama tanpa menyinggung.

Interaksi online juga tidak memiliki emosi. Satu contoh tragis ada seorang ibu, yang sering bertukar pesan teks dengan putrinya yang sedang kuliah di luar kota. Suatu sore, mereka bertukar obrolan dalam pesan whatsapp, ibu bertanya bagaimana keadaannya dan si anak menjawab dengan pernyataan positif diikuti dengan emotikon senyuman dan hati. Kemudian malam itu, si anak mencoba bunuh diri. Tanda-tanda depresi sebenarnya sudah ada, tetapi sepertinya terlewatkan karena minimnya komunikasi tatap muka dan berbagi keadaan emosionalnya.

Media sosial memfasilitasi bentuk interaksi virtual. Istilah virtual digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang tidak nyata, tetapi memiliki kualitas penting dari yang nyata. Ketika bermain game perang online, misalnya, kita dapat merasakan kegembiraan, frustrasi, dan ketegangan, tetapi kita tidak dapat terluka. Bahkan, para pencipta game perang virtual berpendapat bahwa pengalaman virtual lebih baik daripada yang nyata, karena bahaya yang terkait dengan pengalaman nyata dihilangkan. Dengan cara yang sama, interaksi melalui media sosial membuat pengunjung merasa terhubung tanpa kesulitan dan kompleksitas interaksi tatap muka. Dibandingkan dengan interaksi dengan komputer, interaksi dengan rekan manusia memerlukan lebih banyak keterlibatan emosional, usaha kognitif, dan aktivasi otak. Ketika kita tidak ingin menggunakan sumber daya ini, akhirnya terlalu sering kita memilih opsi virtual yang lebih mudah. Yuk mari kita berdayakan kehidupan offline kita!