Kalo kita mengira diri kita sebagai orang dewasa memiliki banyak tanggung jawab penting, sebenarnya  anak-anak juga tidak benar-benar bebas stres loh. Ketika mereka harus menghadapi tes sekolah, mempelajari informasi baru, pindah sekolah atau rumah, sakit, harus menghadapi bully di sekolah, mencari teman baru dan kadang-kadang terluka oleh teman-teman itu.

Apa yang dapat membantu anak-anak untuk menghadapi tantangan-tantangan semacam ini adalah ketangguhan dan ketabahan yang akan menjadikan anak kuat secara mental. Mereka menghadapi situasi yang tidak biasa atau sulit dan berusaha untuk menemukan solusi yang baik. “Ketika mereka masuk ke dalam suatu situasi sulit, anak-anak yang tangguh memiliki perasaan bahwa mereka dapat mencari tahu apa yang perlu mereka lakukan dan dapat mencoba menanganinya dengan percaya diri. Ini tidak berarti bahwa anak-anak harus melakukan semuanya sendiri ya. Justru mereka akan menjadi tahu bagaimana meminta bantuan dan memiliki keyakinan bahwa mereka mampu memecahkan masalah mereka sendiri.

Kalo kita mengira diri kita sebagai orang dewasa memiliki banyak tanggung jawab penting, sebenarnya  anak-anak juga tidak benar-benar bebas stres loh. Ketika mereka harus menghadapi tes sekolah, mempelajari informasi baru, pindah sekolah atau rumah, sakit, harus menghadapi bully di sekolah, mencari teman baru dan kadang-kadang terluka oleh teman-teman itu.

Anak yang kuat secara mental tidak muncul begitu saja dan bisa diajarkan. Para orangtua dapat membekali anak-anak mereka dengan keterampilan untuk menangani hal-hal tak terduga. Ada orangtua mengatakan pada saya “Kami telah berusaha memastikan anak-anak kami merasa nyaman. Kami sebagai orang tua mencoba untuk tetap selangkah lebih maju dari segala hal yang akan dihadapi anak-anak kami.” Saya mengatakan, masalahnya seringkali tanpa disadari orangtua tidak selalu melakukannya, atau mungkin caranya kurang tepat.

Orangtua yang sering merasa cemas,  sering merasa kesulitan untuk membantu anak-anak mereka menoleransi ketidakpastian. Ide untuk membantu anak melalui rasa kecewa yang sama yang orangtua alami seperti tidak tepat karena menganggap mereka anak yang belum memiliki kemampuan. Orangtua pencemas sering mencoba melindungi anak-anak mereka dan juga untuk melindungi diri mereka sendiri dari skenario terburuk. Penting sebenarnya dipahami, bahwa kita sebagai orang tua tidak akan selalu ada sepanjang waktu untuk anak-anak. Memahami rasa kecewa, dapat mengajari anak untuk menangani ketidakpastian dan mencari cara untuk memecahkan masalah. Saya coba berbagi saran yang berharga untuk membesarkan anak-anak yang tangguh ya:

Anak yang kuat secara mental tidak muncul begitu saja dan bisa diajarkan. Para orangtua dapat membekali anak-anak mereka dengan keterampilan untuk menangani hal-hal tak terduga. Ada orangtua mengatakan pada saya “Kami telah berusaha memastikan anak-anak kami merasa nyaman. Kami sebagai orang tua mencoba untuk tetap selangkah lebih maju dari segala hal yang akan dihadapi anak-anak kami.” Saya mengatakan, masalahnya seringkali tanpa disadari orangtua tidak selalu melakukannya, atau mungkin caranya kurang tepat.

Jangan selalu mengakomodasi setiap kebutuhan.
Ketika anda memberikan tanpa henti kepastian dan kenyamanan pada anak, sebenarnya anda  menghalangi anak-anak untuk dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan penguasaan bagi mereka sendiri. Terlalu melindungi anak-anak sebenarnya hanya memicu kecemasan pada diri mereka.

Hindari menghilangkan semua risiko.
Secara alami, orang tua ingin menjaga anak-anak mereka agar aman. Namun, berusaha menghilangkan semua risiko sama dengan merampas kemampuan anak-anak untuk belajar menguasai suatu masalah. Kuncinya adalah untuk memungkinkan risiko yang sesuai dan mengajarkan keterampilan penting bagi anak. Mulailah selagi anak kecil, misalnya ketika dia berusia 5 tahun, belajar cara naik sepedanya dan memperhatikan bagaimana ia bereaksi dan jika terjatuh (bukan jatuh yang berbahaya tentu saja) ingatkan dia bahwa jatuh adalah hal yang wajar ketika belajar naik sepeda dan biarkan ia bangun sendiri. Berikan anak-anak kebebasan berusaha sesuai usia dan bantu mereka mempelajari batas mereka sendiri ya.

Orangtua pencemas sering mencoba melindungi anak-anak mereka dan juga untuk melindungi diri mereka sendiri dari skenario terburuk. Penting sebenarnya dipahami, bahwa kita sebagai orang tua tidak akan selalu ada sepanjang waktu untuk anak-anak. Memahami rasa kecewa, dapat mengajari anak untuk menangani ketidakpastian dan mencari cara untuk memecahkan masalah.

Ajari mereka untuk memecahkan masalah.
Ada klien saya yang selalu gelisah tentang hal pertama kali yang akan ia kerjakan. Misalnya ujian akhir pertamanya. Bersama orangtuanya mereka kini dapat menyusun strategi, termasuk bagaimana anak dapat mengatur waktu dan jadwalnya untuk belajar untuk ujian. Jadi libatkan anak anda dalam mencari tahu bagaimana mereka dapat menangani tantangan, jangan anda atur sendiri setiap saat. Beri mereka kesempatan, bahkan berulang kali, “untuk mencari tahu apa yang berhasil dan yang tidak.” (bersambung)

Apalagi yang lainnya ya? Cekidot minggu depan ya!

Jangan selalu mengakomodasi setiap kebutuhan. Ketika anda memberikan tanpa henti kepastian dan kenyamanan pada anak, sebenarnya anda  menghalangi anak-anak untuk dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan penguasaan bagi mereka sendiri. Terlalu melindungi anak-anak sebenarnya hanya memicu kecemasan pada diri mereka.