Bu Anindya, baru-baru ini saya melihat anak tetangga saya yang kira-kira berumur 6-8 tahun memukul kucing jalanan dengan sapu. Sebenarnya saya pernah melihat juga dia menendang dan menimpuki kucing dengan batu. Ketika saya sampaikan pada orangtuanya, mereka hanya mengatakan “namanya juga anak-anak, ga ngerti dia.” Gimana ya bu? Berbahayakan sebenarnya?
(Marisa, 32 tahun, ibu rumah tangga)

Hai Marisa, sebagian besar anak-anak menyukai binatang, tetapi anak menyakiti binatang bisa saja terjadi. Kuncinya adalah mengenali mengapa anak melakukannya, apakah hal itu dilakukan secara sengaja untuk menyakiti atau tidak, terakhir; apakah anak menyesalinya atau tidak.

Sebagian besar anak-anak menyukai binatang, tetapi anak menyakiti binatang bisa saja terjadi. Kuncinya adalah mengenali mengapa anak melakukannya, apakah hal itu dilakukan secara sengaja untuk menyakiti atau tidak, terakhir; apakah anak menyesalinya atau tidak.

Menyakiti hewan dapat terkait dengan berbagai masalah psikologis dan/atau emosional pada masa kanak-kanak, termasuk kekecewaan anak, kemarahan, tanda perilaku kekerasan di masa depan, atau sinyal bahwa seorang anak sedang mengalami perlakuan buruk. Menyakiti hewan liar maupun peliharaan sendiri seperti apa pun yang dapat membahayakan hewan, baik disengaja atau tidak seperti; menyiksa, melukai, atau memutilasi. Identifikasi tanda-tanda awal kejahatan pada hewan oleh anak sebenarnya merupakan sinyal untuk mencari bantuan.

Seorang anak mungkin mencoba mengatasi perasaan tidak aman dan tidak memiliki kendali dengan menyakiti hewan untuk mengekspresikan ketakutan dan kemarahan mereka. Mereka dapat bertindak dengan cara ini untuk mengidentifikasi dengan rasa sakit hewan atau merasa seperti mereka memiliki kekuatan. Anak-anak yang mungkin tertekan atau marah tentang kondisi kehidupan mereka menganggap menyakiti hewan sebagai cara mengatasi perasaan mereka. Tentu saja cara ini tidak tepat untuk mengatasi stres anak, atau mereka merasa seperti diabaikan dalam hidup oleh orang terdekat mereka.

Namun, menyakiti hewan bisa juga merupakan hasil dari kesalahpahaman anak tentang perasaan binatang dan memandang binatang sebagai mainan dan bukan makhluk hidup. Bantu anak memahami tindakannya. Pendekatan saya adalah ajak anak berbicara tentang menghormati semua makhluk, anjing, kucing termasuk hewan kecil seperti cacing dan serangga. “Kadang-kadang, beberapa anak ingin menginjak saja serangga, dan saya memberi tahu mereka,” Semua orang harus pulang hari ini. Saya ingin pulang, kamu juga harus pulang, dan serangga itu juga ingin pulang.” Saya ingin memperkuat gagasan bahwa kita semua makhluk Tuhan yang mengisi bumi adalah keluarga dan kita memperlakukan semua makhluk dengan lembut.

Namun, menyakiti hewan bisa juga merupakan hasil dari kesalahpahaman anak tentang perasaan binatang dan memandang binatang sebagai mainan dan bukan makhluk hidup. Bantu anak memahami tindakannya. Pendekatan saya adalah ajak anak berbicara tentang menghormati semua makhluk, anjing, kucing termasuk hewan kecil seperti cacing dan serangga. “Kadang-kadang, beberapa anak ingin menginjak saja serangga, dan saya memberi tahu mereka,” Semua orang harus pulang hari ini. Saya ingin pulang, kamu juga harus pulang, dan serangga itu juga ingin pulang.” Saya ingin memperkuat gagasan bahwa kita semua makhluk Tuhan yang mengisi bumi adalah keluarga dan kita memperlakukan semua makhluk dengan lembut.

Inilah sebabnya mengapa penting untuk mempertimbangkan perilaku menyakiti hewan pada anak dalam konteks usia mereka:

Anak-anak usia 1-6:
Anak-anak pada usia ini  belum mengerti bagaimana memperlakukan binatang atau masih melihat binatang itu sebagai mainan. Orang tua harus mengajar anak untuk bermain secara sopan dengan orang lain dan makhluk lain, orang tua juga harus mengajar anak-anak tentang kasih sayang.
Mereka perlu belajar bahwa mereka dapat bertindak seperti itu dengan boneka, tetapi mereka tidak dapat bertindak seperti itu dengan makhluk hidup lain, seperti anjing/kucing atau hewan peliharaan.

Anak-anak usia 1-6: Anak-anak pada usia ini  belum mengerti bagaimana memperlakukan binatang atau masih melihat binatang itu sebagai mainan. Orang tua harus mengajar anak untuk bermain secara sopan dengan orang lain dan makhluk lain, orang tua juga harus mengajar anak-anak tentang kasih sayang. Mereka perlu belajar bahwa mereka dapat bertindak seperti itu dengan boneka, tetapi mereka tidak dapat bertindak seperti itu dengan makhluk hidup lain, seperti anjing/kucing atau hewan peliharaan.

Anak-anak usia 6-12:
Pada usia ini, anak-anak harus sudah memahami perbedaan antara benar dan salah dalam mengasihi hewan. Menyakiti binatang pada usia ini bisa merupakan indikator kemungkinan adanya pelecehan fisik. Ini juga bisa menjadi tanda ketidakmampuan anak mengatasi masalahnya dan sudah memerlukan bantuan psikolog. Walaupun ini bisa menjadi topik yang sulit untuk didiskusikan dengan anak seusia ini, segera cari bantuan psikolog untuk dapat membantu orang tua dan anak secara efektif menangani situasi ini.

Anak-anak yang lebih dari 12 tahun:
Anak-anak yang menyakiti hewan pada usia ini cenderung menunjukkan perilaku kasar lainnya, seperti perilaku kekerasan terhadap orang lain, penyalahgunaan zat (merokok, mencoba menggunakan obat terlarang), atau perusakan properti (menonjok dinding). Kondisi menyakiti binatang bisa jadi merupakan akibat dari tekanan teman sebaya, atau kondisi terkait lainnya. Cari pertolongan psikolog segera jika ini terjadi.

Menghentikan menyakiti hewan pada anak yang memiliki kemampuan untuk memahami benar dan salah sangat penting untuk mencegah peningkatan kekerasan di masa depan, bisa jadi terhadap orang lain. Gejala-gejala ini tidak boleh diabaikan. Psikolog bisa menjadi tempat yang baik untuk memulai. Saat berbicara kepada anak anda tentang pelecehan hewan, gunakan nada yang tidak menghakimi. Jika anda telah mengamati perilaku ini pada anak lain, jangan segan untuk mengingatkan orangtua atau orang dewasa terdekat anak tersebut. Anak-anak perlu mempelajari aturan dan perilaku yang dapat diterima untuk menjaga orang lain, makhluk lain di sekitar mereka tetap aman.

Menghentikan menyakiti hewan pada anak yang memiliki kemampuan untuk memahami benar dan salah sangat penting untuk mencegah peningkatan kekerasan di masa depan, bisa jadi terhadap orang lain. Gejala-gejala ini tidak boleh diabaikan. Psikolog bisa menjadi tempat yang baik untuk memulai. Saat berbicara kepada anak anda tentang pelecehan hewan, gunakan nada yang tidak menghakimi. Jika anda telah mengamati perilaku ini pada anak lain, jangan segan untuk mengingatkan orangtua atau orang dewasa terdekat anak tersebut. Anak-anak perlu mempelajari aturan dan perilaku yang dapat diterima untuk menjaga orang lain, makhluk lain di sekitar mereka tetap aman.