Hai Kak Anindya, gimana ya sebenarnya aku tuh takut banget tiap keluar rumah, tapi aku malu ngomong sama keluarga. Sama sahabatku juga. Gimana ya kak?
(Catherine, 22 tahun)

Hello bu Anindya, saya selalu bermimpi buruk kalo tidur. Bahkan tidak jarang sampai kebangun saking takutnya. Saya ingin ngomong sama suami atau teman tapi koq ragu ya. Bagaimana ya bu?
(Nina, 30 tahun)

Hai Mbak Anindya, saya sebenarnya sudah enggan bekerja di tempat saya sekarang bahkan terkadang sampai sakit karena enggannya berangkat kerja. Mau membicarakan dengan pasangan atau sejawat saya tetapi ragu ya. Bagaimana ya mbak?
(Erik, 28 tahun)

Hai teman psikolog; Menceritakan tentang kesehatan mentalmu bisa jadi sulit dalam situasi apa pun. Haruskah kamu mengungkapkannya kepada pasangan? kolega?  sahabat? Banyak orang tetap diam ketika mengalami masalah secara mental, karena mereka mengantisipasi penolakan, penilaian buruk, atau bahkan mendiskriminasi diri sendiri. Bagi yang memutuskan untuk mengungkapkannya pada orang lain, dari topik yang kita pikirkan sehari-hari hingga topik yang berat, seperti pikiran untuk bunuh diri atau depresi berat. sebenarnya kalian sudah membantu mematahkan stigma buruk tentang kesehatan mental.

Hai teman psikolog; Menceritakan tentang kesehatan mentalmu bisa jadi sulit dalam situasi apa pun. Haruskah kamu mengungkapkannya kepada pasangan? kolega?  sahabat? Banyak orang tetap diam ketika mengalami masalah secara mental, karena mereka mengantisipasi penolakan, penilaian buruk, atau bahkan mendiskriminasi diri sendiri. Bagi yang memutuskan untuk mengungkapkannya pada orang lain, dari topik yang kita pikirkan sehari-hari hingga topik yang berat, seperti pikiran untuk bunuh diri atau depresi berat. sebenarnya kalian sudah membantu mematahkan stigma buruk tentang kesehatan mental. Semakin banyak orang telah mengungkapkan kepada seseorang di jejaring sosial mereka, namun tetap saja ya untuk berbicara kepada orang lain masih menjadi keputusan yang sulit untuk dilakukan.

Mari kita coba pikirkan bersama apakah kamu akan mengungkapkan kesehatan mentalmu:

#1: Pertimbangkan Kebutuhanmu.
Apa yang mendorong dirimu untuk berbicara? Apa yang kamu inginkan? Dorongan dan pengertian? Apakah kamu merasa terbebani atau terisolasi oleh suatu rahasia? Mungkin kamu memerlukan bantuan psikolog atau ingin teman-temanmu dapat mengerti apa yang terjadi. Apapun itu, pikirkan tujuan akhirmu: apa yang kamu butuhkan atau inginkan dari membicarakannya?

Mari kita coba pikirkan bersama apakah kamu akan mengungkapkan kesehatan mentalmu: #1: Pertimbangkan Kebutuhanmu. Apa yang mendorong dirimu untuk berbicara? Apa yang kamu inginkan? Dorongan dan pengertian? Apakah kamu merasa terbebani atau terisolasi oleh suatu rahasia? Mungkin kamu memerlukan bantuan psikolog atau ingin teman-temanmu dapat mengerti apa yang terjadi. Apapun itu, pikirkan tujuan akhirmu: apa yang kamu butuhkan atau inginkan dari membicarakannya?

# 2: Renungkan nilai-nilaimu.
Setiap orang yang mengungkapkan informasi psikologisnya sebenarnya sudah sedikit mengurangi stigma seputar kesehatan mental, tetapi kamu mungkin belum merasa siap untuk memikul tanggung jawab itu, dan sebenarnya tidak masalah koq. Pikirkan nilai-nilaimu sendiri. Mungkin kamu menghargai keterbukaan dan kejujuran. Atau mungkin kamu menghargai privasimu. Selain itu, coba cek nilai-nilai dan pengetahuanmu tentang kondisi mental itu sendiri. Tantang setiap anggapan bahwa kamu lemah karena membutuhkan bantuan, dan pertanyakan perasaan bersalahmu atau jika merasa malu karena mengalami masalah kesehatan mental. 

Poin # 3: Periksalah pro dan kontra dari berbicara dan pro dan kontra dari tetap diam.
Bagaimanapun kita adalah manusia biasa, kamu mungkin memiliki perasaan campur aduk tentang membicarakan kondisi mental kita. Kamu mungkin ingin terbuka dengan temanmu, tetapi khawatir dia akan perlahan mundur dari persahabatanmu. Kamu mungkin khawatir tentang stigma di tempat kerja, tetapi khawatir gejala yang tidak dapat dijelaskan dapat membahayakan pekerjaanmu bahkan lebih.
Untuk mendapatkan kejelasan, buatlah daftar tidak hanya pro dan kontra dari menceritakan, tetapi juga pro dan kontra dari tetap diam. Kamu mungkin berpikir bahwa pro hanyalah gambaran cermin dari kontra karena tidak memberi tahu, tetapi kamu akan terkejut dengan nuansa bermanfaat ketika kamu menulisnya di kertas.

Setiap orang yang mengungkapkan informasi psikologisnya sebenarnya sudah sedikit mengurangi stigma seputar kesehatan mental, tetapi kamu mungkin belum merasa siap untuk memikul tanggung jawab itu, dan sebenarnya tidak masalah koq. Pikirkan nilai-nilaimu sendiri. Mungkin kamu menghargai keterbukaan dan kejujuran. Atau mungkin kamu menghargai privasimu. Selain itu, coba cek nilai-nilai dan pengetahuanmu tentang kondisi mental itu sendiri. Tantang setiap anggapan bahwa kamu lemah karena membutuhkan bantuan, dan pertanyakan perasaan bersalahmu atau jika merasa malu karena mengalami masalah kesehatan mental. 

# 4: Pikirkan tentang siapa yang harus diceritakan.
Mengungkapkan tidak berarti memberi tahu semua orang. Kamu bisa memberi tahu satu orang saja. Jika hal itu berjalan dengan baik, mungkin kamu memberi tahu yang lain. Semua terserah kepadamu. Saat kamu baru memulai, mulailah dengan seseorang yang akan terbuka dan mendukungmu bahkan jika kamu melakukan hal bodoh. Pengalaman pertama dapat memberikan dasar yang kuat untuk mengungkapkan dengan lebih baik. Pertimbangkan juga kondisi emosional atau kondisi psikologis orang yang ingin kamu sampaikan. 

Cara mengungkapkannya bisa jadi merupakan bagian tersulit dari semuanya. Meskipun kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang lain, kamu dapat mengontrol bagaimana kamu akan menyampaikannya. Kamu bisa mengatur nada bicara. Kamu juga bisa menjadikannya serius dan mendalam, bodo amat dan ringan, atau seperti apa pun. Jika kamu tidak yakin apa yang terasa benar, berlatihlah sendiri terlebih dahulu dengan mengatakannya dengan suara jelas layaknya sedang bicara pada orang yang kamu tuju, atau kamu bisa mengatakannya pada psikolog-mu karena psikolog profesional tidak akan menghakimi kondisi dan situasi seseorang.

Cara mengungkapkannya bisa jadi merupakan bagian tersulit dari semuanya. Meskipun kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang lain, kamu dapat mengontrol bagaimana kamu akan menyampaikannya. Kamu bisa mengatur nada bicara. Kamu juga bisa menjadikannya serius dan mendalam, bodo amat dan ringan, atau seperti apa pun. Jika kamu tidak yakin apa yang terasa benar, berlatihlah sendiri terlebih dahulu dengan mengatakannya dengan suara jelas layaknya sedang bicara pada orang yang kamu tuju, atau kamu bisa mengatakannya pada psikolog-mu karena psikolog profesional tidak akan menghakimi kondisi dan situasi seseorang.

Tidak perlu pedulikan bagaimana akhirnya kamu memutuskan untuk mengungkapkannya, mudah-mudahan, orang yang mendapatkannya dapat memahami atau bahkan membantu. Pada akhirnya, tidak perlu mempermanis ceritamu, dan bahwa kamu berterima kasih untuk persahabatan dan dukungan mereka. Pengungkapan dengan non-psikolog bisa saja tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Bisa berarti kekecewaan, tetapi bisa saja terkadang mereka terkejut saja. Yang dapat kamu lakukan adalah mencoba dan yakin bahwa niat baik akan berakhir baik. Ketidakmulusan bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan. Paling tidak kamu sudah mencoba. Itu aja udah keren koq.