“Mana ada pemerkosaan pada laki-laki, aneh banget” seorang teman laki-laki mengatakan hal ini sambil tertawa. Ada juga teman perempuan yang mengatakan, “Laki-laki tidak bisa diperkosa karena dia pasti menginginkannya”. Pada kenyataannya pemerkosaan bisa dan memang terjadi pada laki-laki. Isu pemerkosaan laki-laki ke laki-laki, begitu juga perempuan-ke-laki-laki masih sulit diakui karena bentuk trauma ini lebih jarang terjadi atau paling tidak jarang diketahui daripada korban perempuan.

Pada kenyataannya pemerkosaan bisa dan memang terjadi pada laki-laki. Isu pemerkosaan laki-laki ke laki-laki, begitu juga perempuan-ke-laki-laki masih sulit diakui karena bentuk trauma ini lebih jarang terjadi atau paling tidak jarang diketahui daripada korban perempuan.

Memang jarang sekali atau mungkin bahkan pelecehan apalagi perkosaan terhadap laki-laki tidak dilaporkan, dan jarang disebutkan oleh media. Masyarakat masih sulit memahami mengenai kondisi ini. Masih banyak juga yang mempercayai mitos bahwa pemerkosaan pada laki-laki hanya terjadi pada homoseksual saja atau laki-laki tidak bisa diperkosa oleh perempuan. Intinya, perilaku masyarakat mengatakan bahwa yang melakukan pemerkosaan pada laki-laki tidak akan dibahas. Korban laki-laki sangat menyadari hal ini, dan seringkali menginternalisasi beban pikiran dan perasaan mereka. Hal ini membuat kecil kemungkinan korban akan melaporkan serangan yang mereka alami.

Memang jarang sekali atau bahkan pelecehan apalagi perkosaan terhadap laki-laki tidak dilaporkan, dan jarang disebutkan oleh media. Masyarakat masih sulit memahami mengenai kondisi ini. Masih banyak juga yang mempercayai mitos bahwa pemerkosaan pada laki-laki hanya terjadi pada homoseksual saja atau laki-laki tidak bisa diperkosa oleh perempuan.

Para korban sering merasa terganggu oleh ketidakmampuannya untuk melindungi dirinya sendiri, mempertanyakan maskulinitasnya, merasa bahwa kendali telah diambil darinya. Mereka juga merasa malu dengan kejadian tersebut, membuat mereka enggan untuk berbicara. Banyak dari korban kekerasan seksual dewasa berpandangan bahwa “tidak ada yang akan mempercayai saya” sebagai alasan untuk tidak melaporkan kejadian tersebut. Banyak juga yang mengatakan bahwa mereka takut tidak menerima dukungan dari keluarga maupun teman. Hal ini muncul karena mereka sering merasa takut tidak dipercayai maupun takut ditertawakan jika mengungkapkan pelecehan ataupun pemerkosaan tersebut.

Korban juga sering mengalami berbagai kesulitan emosional: isolasi, kemarahan, kesedihan, rasa malu, rasa bersalah, dan ketakutan. Gangguan stres pascatrauma, gangguan depresi dan kecemasan  juga umum terjadi pada korban.

Korban juga sering mengalami berbagai kesulitan emosional: merasa terisolasi, kemarahan, kesedihan, rasa malu, rasa bersalah, dan ketakutan. Gangguan stres pascatrauma, gangguan depresi dan kecemasan  juga umum terjadi pada korban. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong korban laki-laki untuk mendapatkan dukungan mungkin sangatlah sulit, namun pendidikan sosial mengenai pelecehan seksual dan kesalahpahaman seputar pemerkosaan sangat penting untuk membantu korban laki-laki.

Meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong korban laki-laki untuk mendapatkan dukungan mungkin sangatlah sulit, namun pendidikan mengenai pelecehan seksual dan kesalahpahaman seputar pemerkosaan sangat penting untuk membantu korban laki-laki.

Kita membutuhkan lebih banyak pendidikan dan kesadaran sehingga orang-orang yang mengalami serangan tidak boleh disalahkan. Korban seharusnya tidak pernah harus merasa malu. Jika kamu pernah menemukan dirimu menjadi korban, semoga dirimu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Ada orang yang peduli dan ingin membantumu, dan kamu akan mampu dengan kuat melewatinya.