Hello, untuk sahabat TanyaPsikolog yang telah mengirimkan berbagai pertanyaan mengenai tes sidik jari ya. Saya coba kumpulkan berbagai pertanyaan yang saya dapatkan dan saya rangkum disini ya. Semoga Membantu!

Mitos: Tes Sidik Jari dapat memprediksi kepribadian, kecerdasan hingga kemampuan kerja seseorang.
Fakta: Penelitian mengenai sidik jari banyak dilakukan untuk kegunaan kesehatan, forensik dan perangkat lunak sistem keamanan. Namun, belum ada hasil penelitian yang empiris mengenai keakuratan tes sidik jari untuk melihat kepribadian, kecerdasan dan pekerjaan bahkan hingga tahun 2018 ini.

Mitos: Tes Sidik Jari dapat memprediksi kepribadian, kecerdasan hingga kemampuan kerja seseorang. Fakta: Penelitian mengenai sidik jari banyak dilakukan untuk kegunaan kesehatan, forensik dan perangkat lunak sistem keamanan. Namun, belum ada hasil penelitian yang empiris mengenai keakuratan tes sidik jari untuk melihat kepribadian, kecerdasan dan pekerjaan bahkan hingga tahun 2018 ini.
  • Masa sih mitos, kan ada hasil penelitiannya?
    Diawali dengan tes sidik jari ini yang katanya hasil penelitian Jaegers (1974) namun saya tidak dapat menemukan artikel penelitiannya, atau yang lebih baru yang katanya dilakukan peneliti di Taiwan dan Iran (2001) namun ternyata mereka meneliti sidik jari untuk meningkatkan tingkat akurasi alat pembaca sidik jari bukan sebagai tes psikologis termasuk kecerdasan, kepribadian ataupun kemampuan kerja. Ada juga penelitian yang dilakukan tahun 2010, namun tampaknya sudah ditarik dari Google Scholar; tempat untuk mencari artikel jurnal penelitian ilmiah, hal ini bisa dikarenakan ketidakilmiahan penelitian tersebut.
    Saya akan coba jelaskan sedikit kapan penelitian dan hasilnya dapat dianggap ilmiah. Penelitian yang baik biasanya akan diterbitkan dalam jurnal di bidangnya masing-masing, misalnya penelitian psikologi akan terbit di dalam jurnal psikologi, penelitian geografi akan terbit dalam jurnal geografi. Yang disebut penelitian ilmiah adalah penelitian yang melalui proses peer-reviewed research. Artinya, peneliti yang meneliti topik tertentu akan mendapatkan review secara mendalam oleh kolega mereka di bidang tersebut, sebelum dapat diterbitkan dalam sebuah jurnal. Pemberi review biasanya dari negara yang berbeda yang telah ditentukan oleh editor jurnal tersebut, jika jurnal yang dituju berkelas internasional. Semakin baik hasilnya suatu penelitian yang diterbitkan dalam sebuah jurnal, akan semakin banyak pula orang yang akan menelitinya. Jika tidak, tentu saja akan sulit untuk terbit dalam sebuah jurnal dan jika terbit pun akan semakin ditinggalkan peneliti.
    Begitu juga tentang ketidakakuratan Universitas Harvard dan Cambridge yang katanya melakukan penelitian tes sidik jari, kedua universitas tersebut tidak melakukan penelitian hubungan antara kepribadian dan tes sidik jari, melainkan hanya menggunakan alat pindai (scan) sidik jari untuk data mahasiswa dan kepegawaian mereka.
  • Adakah negara lain yang memakai juga tes sidik jari ini?
    Tes sidik jari ini hanya digunakan di sejumlah kecil negara di Asia yang tampaknya juga mengalami pro dan kontra. Negara maju di Asia seperti Jepang tidak menggunakan tes sidik jari ini. Dunia barat bahkan tidak melakukan penelitian tes sidik jari untuk mengukur kepribadian, kecerdasan apalagi untuk kemampuan kerja seseorang.
  • Bukankah tes sidik jari masuk kategori tes beraliran genetik? Jika ingin dikaitkan dengan aliran nature vs nurture, genetic vs environment. Kondisi tes sidik jari inipun tidak dapat dikatakan masuk dalam aliran genetik, karena anda tidak bisa mendapatkan genetika seseorang melalui sidik jari. Genetika seseorang hanya didapat melalui darah, tulang, rambut, ludah, cairan alat kelamin, kulit dan keringat. Itupun untuk menentukan hubungan darah orangtua-anak, sejarah penyakit dalam keluarga, meneliti pola penyakit ataupun digunakan sebagai bukti forensik X terhadap Y.
  • Bukankah tes sidik jari masuk kategori tes beraliran genetik?
    Jika ingin dikaitkan dengan aliran nature vs nurture, genetic vs environment. Kondisi tes sidik jari inipun tidak dapat dikatakan masuk dalam aliran genetik, karena anda tidak bisa mendapatkan genetika seseorang melalui sidik jari. Genetika seseorang hanya didapat melalui darah, tulang, rambut, ludah, cairan alat kelamin, kulit dan keringat. Itupun untuk menentukan hubungan darah orangtua-anak, sejarah penyakit dalam keluarga, meneliti pola penyakit ataupun digunakan sebagai bukti forensik X terhadap Y.
  • Adakah negara lain yang memakai juga tes sidik jari ini? Tes sidik jari ini hanya digunakan di sejumlah kecil negara di Asia yang tampaknya juga mengalami pro dan kontra. Negara maju di Asia seperti Jepang tidak menggunakan tes sidik jari ini. Dunia barat bahkan tidak melakukan penelitian tes sidik jari untuk mengukur kepribadian, kecerdasan apalagi untuk kemampuan kerja seseorang.
  • Bukankah psikolog yang mengembangkan tes sidik jari ini?
    Begitu juga tentang landasan teori yang digunakan tes sidik jari, yang katanya menggunakan teori Multiple Intelligence (MI) yang dikembangkan oleh psikolog Harvard; Prof. Howard Gardner yang tidak dapat ditemukan keterkaitannya dengan ilmu sidik jari yang dikembangkan Dr. Harold Cummins. Hingga kemudian bisa menjadi software ataupun alat tes sidik jari.
  • Memangnya tidak bagus tujuan dari alat tes sidik jari ini?
    Baik tidaknya suatu alat tes, paling awal adalah memiliki logika, masuk akal dan tentu saja sudah melewati penelitian ilmiah. Bagaimana pengambilan sidik jari yang hanya dijalankan 5-10menit bisa menggambarkan keseluruhan hidup kita dari masa anak hingga dewasa? Jargon marketing yang ditawarkan oleh tes sidik jari ini seringkali abstrak, misalnya tes sidik jari untuk anak seperti untuk membentuk masa depan anak, mengetahui kemampuan batin anak, mengetahui cara anak mengejar mimpi masa depan mereka. Bukankah tugas kita sebagai orangtua hingga mereka dewasa untuk mengenali dan memahami perkembangan anak-anak kita?  Bagaimana sebuah alat tes bisa menggantikan proses panjang kita sebagai orangtua? Untuk dewasa, tujuannya sering terlalu luas dari potensi kerja, kesuksesan akademik-kerja, pemahaman pra-nikah, kepribadian dan gangguan, emosi dan masih banyak lagi. Penting untuk diingat, bahwa alat tes bukanlah penentu keseluruhan hidup kita.
  • Ada ga sih penjelasan sederhana tentang tes sidik jari untuk menentukan kepribadian, kecerdasan, memprediksi kemampuan kerja, hingga berbagai hal ini? Penjelasan paling sederhananya adalah jika dikaitkan dengan kepribadian, kepribadian manusia terus berkembang dan dapat berubah dan termodifikasi. Bisa menjadi bertambah buruk ataupun baik sepanjang usia manusia tersebut hidup. Begitu juga dengan kecerdasan seseorang yang dapat berpengaruh juga melalui lingkungan, cara mendidik serta gizi yang didapatkan sejak kecil. Sedangkan sidik jari manusia tidak mengalami perubahan sejak lahir hingga kematian. Jadi terlihat bahwa antara tes sidik jari dengan kepribadian, kecerdasan, kemampuan kerja dan tujuan analisa lainnya pada seseorang tidak memiliki korelasi.
  • Ada ga sih penjelasan sederhana tentang tes sidik jari untuk menentukan kepribadian, kecerdasan, memprediksi kemampuan kerja, hingga berbagai hal ini?
    Penjelasan paling sederhananya adalah jika dikaitkan dengan kepribadian, kepribadian manusia terus berkembang dan dapat berubah dan termodifikasi. Bisa menjadi bertambah buruk ataupun baik sepanjang usia manusia tersebut hidup. Begitu juga dengan kecerdasan seseorang yang dapat berpengaruh juga melalui lingkungan, cara mendidik serta gizi yang didapatkan sejak kecil. Sedangkan sidik jari manusia tidak mengalami perubahan sejak lahir hingga kematian. Jadi terlihat bahwa antara tes sidik jari dengan kepribadian, kecerdasan, kemampuan kerja dan tujuan analisa lainnya pada seseorang tidak memiliki korelasi.